KORANPAGARALAMPOS.COM - Di balik keindahan Bali yang dikenal sebagai pulau surga dengan pantai-pantai eksotis dan budaya yang kaya,
terdapat sebuah tempat yang kini menyimpan aura misteri dan cerita horor yang tak terhitung jumlahnya.
Taman Festival Bali, yang dulunya digadang-gadang sebagai taman hiburan terbesar dan paling megah di Pulau Dewata,
kini berubah menjadi kawasan terbengkalai yang dipenuhi reruntuhan, tanaman liar yang merayap di setiap sudut, serta kisah-kisah mistis yang terus berkembang di kalangan masyarakat setempat maupun wisatawan yang penasaran.
BACA JUGA:Yuk Bayangkan Serunya Punya Laptop Tipis dengan Baterai Tahan Seminggu Tanpa Ribet Charger
Taman yang terletak di Pantai Padang Galak, Sanur, ini awalnya dibuka dengan harapan menjadi ikon wisata yang menarik ribuan pengunjung.
Dengan konsep megah yang mencakup berbagai wahana hiburan, teater laser, serta area rekreasi berkelas dunia, proyek ini tampaknya akan menjadi salah satu daya tarik utama di Bali.
Namun, kenyataan berkata lain. Tak lama setelah beroperasi, taman ini ditutup secara mendadak, menyisakan berbagai spekulasi dan tanda tanya besar di benak masyarakat.
Salah satu teori yang berkembang mengenai penutupan Taman Festival Bali adalah masalah keuangan dan manajemen yang buruk.
BACA JUGA:Yuk Intip Robot Rumah Tangga Pintar yang Bisa Gantikan Asisten di Rumah Anda
Banyak sumber menyebutkan bahwa pihak pengelola mengalami kebangkrutan, sehingga berbagai fasilitas yang telah dibangun tidak dapat dipelihara dengan baik.
Namun, di luar alasan ekonomi, beredar pula cerita bahwa ada kekuatan gaib yang turut berperan dalam kehancuran taman ini.
Beberapa warga sekitar percaya bahwa lokasi taman ini dulunya adalah tanah yang dianggap sakral dan memiliki energi mistis yang kuat.
Pembangunan taman di area tersebut dianggap mengusik keseimbangan spiritual, sehingga roh-roh penunggu tempat itu menjadi marah dan membuat proyek ini gagal beroperasi dalam waktu lama.
BACA JUGA:Yuk Coba Smartwatch Canggih yang Bisa Ukur Stres Harian Biar Hidup Lebih Tenang