Akhir Bulan Muharram dan Jelang Safar
Akhir Bulan Muharram dan Jelang Safar oleh Ust. Muliadi Mangku Anom--ilustrasi_net
Bagi sebagian orang, bulan Safar dianggap sebagai bulan sial atau bulan bencana.
Padahal, dalam sejarah perkembangan Islam, umat Islam berhasil memenangkan perang Abwa pada bulan Safar. Jika ditelaah lebih lanjut, tidak ada kesialan yang melekat pada suatu bulan atau waktu tertentu.
BACA JUGA:Daftar 17 Pemain yang Terancam Absen di Semifinal Piala Dunia 2026
Dengan demikian, setiap waktu dapat dimanfaatkan umat Islam untuk menunaikan amal kebaiakn. Hal ini juga diperintahkan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 77:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ٧٧
Artinya:"Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung."
Anggapan bulan Safar sebagai bulan sual telah diluruskan oleh Rasulullah dalam sebuah hadis yang berbunyi:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
Artinya, “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR al-Bukhari) (Badruddin ‘Aini, ‘Umdâtul Qâri Syarhu Shahîhil Bukhâri, [Beirut, Dârul Kutub: 2006], juz IX, halaman 409).
BACA JUGA:Perkuat Sinergi Tata Kelola Pendidikan
Dari penjelasan hadis di atas, berkah atau sial selama bulan Safar tergantung masing-masing individu. Dalam kitab Lathaiful Ma’arif Fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, Imam Ibnu Rajab mengatakan:
فَكُلُّ زَمَانٍ شَغَلَهُ المُؤْمِنَ بِطَاعَةِ الله فَهُوَ زَمَانٌ مُبَارَكٌ عَلَيْهِ وَكُلُّ زَمَانٍ شَغَلَهُ العَبْدَ بِمَعْصِيَةِ الله فَهُوَ مَشْؤُمٌ عَلَيْهِ
Artinya, “Maka, setiap zaman yang menyibukkan orang mukmin dari melakukan ketaatan kepada Allah, maka zaman itu merupakan zaman yang diberkahi, dan setiap zaman yang menyibukkan manusia dengan bermaksiat kepada Allah, maka zaman itu merupakan zaman kesialan (tidak diberkahi).”
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyebab suatu bulan menjadi sial dan tidak diberkahi oleh Allah karena banyaknya kemaksiatan di dalamnya.